Sempat Takut, Ardi Merasa Bangga Bekerja Mengangkut Limbah Medis Penanganan Covid -19

 314 total views,  1 views today

 

“Protokol Kesehatan itu penting, kita sudah menjalaninya dengan berhubungan langsung sama limbah medis penanganan Covid -19, sesuai SOP dan sesuai Protokol Kesehatan. Ya kita harus berikhtiar jua”, tambah Ardi.

Tanjung, Mercubenua.net – Memungut sampah dan menggiringnya ke penampungan bukan pekerjaan ringan, mudah ataupun diminati orang. Bagi sebagian orang, mungkin pekerjaan tersebut adalah pilihan terakhir yang bisa dilakukan.

Seorang petugas kebersihan yang sering orang sebut “Tukang Sampah” tak pernah berhenti sampai dimana pun, meski kebanyakan kompensasi yang diterimanya tak sebanding dengan lelah fisik dan mental.

Banyak diantara kita yang mengandalkan petugas kebersihan dalam menyelesaikan sampah yang sengaja dibuang begitu saja. Sebab enggan mencari tempat sampah yang juga terbatas jumlahnya atau mengumpulkan, memilah lalu menempatkan ke tempat yang telah disediakan. Baik itu sampah medis ataupun sampah non medis.

Ditunjuk menjadi bagian dari pengelolaan limbah B3 infeksius/medis penanganan Pandemi Covid -19 di Kabupaten Tabalong, Ardi dan Dzulkifli adalah petugas pemungut /pengangkut sampah medis sejak masuknya wabah virus corona di daerah ini.

Dirinya mengaku bangga dan menjalani pekerjaan tersebut dengan ikhlas dan senang hati kendati tidak menutup kemungkinan terpapar virus bekas sampah medis yang bisa menjadi media penularan berbagai macam penyakit.

Ardi kepada SKU Mercu Benua menceritakan semula dirinya sempat tidak diijinkan oleh pihak keluarga untuk menjadi petugas kebersihan yang mengelola limbah B3 medis penanganan Covid -19 dan dirinya juga merasa was-was, khawatir serta takut akan tertular virus tersebut. Hal tersebut diakuinya, karena saat itu dirinya masih belum begitu mengetahui apa itu virus corona.

“Sebetulnya sempat merasa takut dan juga kurang disetujui oleh keluarga, karena saat itu kita belum tahu seperti apa virus itu,” ujar Ardi usai melakukan tugasnya dan dijumpai wartawan media ini.

Didampingi Dzulkifli, Lanjut Ardi bercerita, yang menjadi motivasinya menjadi petugas pemungut/ pengangkut limbah medis B3 infeksius covid -19 semata -mata untuk membantu pemerintah, khususnya Pemda Tabalong dalam upaya penanganan dan pengendalian pemutusan penularan virus corona.

“Kita sadar betul atau bagi orang yang belum tahu bahwa limbah medis itu seperti masker berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Jadi motivasi saya dalam bertugas mengangkut sampah medis ini semata-mata agar penularan covid -19 bisa tertangani secara maksimal dan bisa kembali normal seperti biasa,” beber Ardi.

 

Seiring berjalannya waktu dan juga mendapat edukasi dari DLH Kabupaten Tabalong terkait pengelolaan limbah medis, Ardi mengaku dirinya memahami dan mengetahui tentang virus corona.

“Kita sebelum terjun diedukasi terlebih dahulu, selain itu kita juga disiapkan Alat Pelindung Diri (APD) Lengkap. Dan kita sadari karena belum ada vaksin, satu-satunya cara agar tidak terjadi kemungkinan tertularnya seseorang dari virus corona, Ya harus dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti bermasker hingga menghindari kerumunan” timpalnya.

Lanjut Ardi mengisahkan pengalamannya, ketika dirinya pernah dua kali melakukan Rapit test dan Swab test sempat merasa takut menunggu hasil test tersebut. “Menunggu hasil rapid dan swab itu kita deg-degan dan takut kalau-kalau hasilnya positif tertular Covid-19, Alhamdulillah hasilnya selalu negatif dan non reaktif. Kita kira itu hal manusiawi, sebab kita sering berhubungan dengan limbah medis penanganan Covid -19. Ya salah satu garda terdepanlah pada pendemi covid – 19 ini,” ujar Ardi lagi yang ucapannya dibenarkan Dzulkifli.

Ketika ditanya wartawan mengenai besaran insentif yang disiapkan pemerintah, Ardi enggan menyebutkan nominalnya. “Ya cukuplah untuk keperluan kita dirumah. Bahkan selain disiapkan APD lengkap oleh pemerintah, sampai saat ini kita juga didukung dan diberi asupan suplemen supaya tetap bugar,” tutup Ardi.

Ardi berpesan kepada masyarakat, khususnya warga Tabalong untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Hal itu ia sampaikan karena dirinya yang berhubungan langsung dengan limbah medis penanganan Covid- 19 saja tidak tertular karena menjalankan pekerjaan tersebut dengan SOP salah satunya penerapan penuh protokol kesehatan.

“Protokol Kesehatan itu penting, kita sudah menjalaninya dengan berhubungan langsung sama limbah medis penanganan Covid -19, sesuai SOP dan sesuai Protokol Kesehatan. Ya kita harus berikhtiar jua”, tambah Ardi.

Harapan mereka adalah Tabalong menjadi bersih dan nyaman untuk warganya, walaupun pekerjaan mereka rentan tertular berbagai macam bakteri yang hidup pada sampah atau limbah B3 medis tersebut tetapi tetap ikhlas menjalaninya.

Selain itu, kepada masyarakat diharapkan bisa memanusiakan petugas kebersihan dengan melakukan pemilahan terhadap sampah, baik itu sampah medis atau non medis.

Petugas kebersihan yang sering disebut orang “tukang sampah” adalah hal yang keliru. Tukang sampah itu adalah yang membuang sampah sembarangan, sementara orang yang sering kita sebut “tukang sampah” adalah petugas kebersihan.

Sudah saatnya kita memanusiakan petugas kebersihan, misalnya dengan melakukan pemilahan terhadap sampah. 

Sampah yang tidak layak untuk disentuh orang seperti pembalut, pampers dan sebagainya bisa dimasukkan kewadah khusus dan dikasih label, sehingga para petugas hanya tinggal mengangkatnya saja tanpa perlu memungutnya lagi. (din)