Dampak Pembelajaran Jarak Jauh (Daring) Terhadap Pendidikan di SDN 1 Garagata

 315 total views,  1 views today

Foto: Istimewa

Oleh: Melda Yanti, S.Pd.

Guru SDN 1 Garagata Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong

Pandemi covid-19 yang saat ini sedang mewabah seluruh negeri, sangat berpengaruh sekali terhadap sistem pendidikan dan proses belajar mengajar  di Kabupaten Tabalong. Tidak terkecuali untuk SDN 1 Garagata khususnya dan sekolah dasar yang ada di Kecamatan Jaro pada umumnya. Proses pembelajaran dari rumah pun mulai di terapkan, dimana siswa sekolah dasar  di tuntut untuk menggunakan smarphone sebagai media pembelajaran jarak jauh karena di berlakukannya larangan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Karena larangan tatap muka di sekolah  inilah, proses belajar mengajar di SDN 1 Garagata yang sebelumnya berlangsung di sekolah dan mendapat bimbingan langsung oleh guru, beralih harus belajar dari rumah. Peran guru pun secara tidak langsung sedikit banyaknya harus di ambil alih oleh orang tua di rumah guna membantu kelancaran proses pembelajaran. Belum lagi orang tua juga di tuntut untuk memiliki smarphone sebagai media berkirim materi pembelajaran, video pembelajaran,  maupun tugas via aplikasi whatsapp.

Tentu bukan hal yang mudah bagi Guru maupun orang tua dalam  melaksanakan pembelajaran jarak jauh seperti ini. Ada banyak sekali kendala yang harus di hadapi untuk kami di SDN 1 Garagata, mulai dari jaringan internet yang tidak stabil di lingkungan sekolah dan  tempat tinggal siswa, banyaknya orang tua yang tidak memiliki smarphone di karenakan faktor ekonomi sehingga tidak semua siswa dapat menerima materi ajar yang dikirim oleh guru, sampai  kesulitan-kesulitan orang tua yang harus berperan sebagai pendidik bagi anak-anak mereka.

Hal ini tentu saja menyebabkan proses pembelajaran menjadi terkendala dan nilai siswa pun akhirnya banyak yang di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pemahaman siswa terhadap materi pelajaran juga menjadi berkurang. Belum lagi masalah sebagian siswa yang tidak mengirim tugas di karenakan tidak memiliki smarphone dan alasan  tidak ingin membebani orang lain jika harus meminjam smarphone tetangga misalnya. Siswa di rumah  juga cenderung tidak ingin belajar dengan orang tua mereka karena menganggap belajar di rumah bukanlah suatu yang ‘wajib’ untuk mereka lakukan. Terlebih untuk siswa kelas 1 sekolah dasar yang belum mengenal huruf dan belum bisa membaca, akan sangat berpengaruh sekali terhadap kemampuan mereka mengikuti pembelajaran di kelas yang lebih tinggi apabila orang tua tidak ikut berperan dalam pengajaran anaknya di rumah. Keluhan dari sebagian besar para orang tua pun semakin bertambah di karenakan anak-anak mereka menjadi lebih banyak menghabiskan waktu bermain gadget di rumah selama masa pandemi ini.

Karena latar belakang  kondisi seperti inilah dan mengingat daerah pedesaan dengan kemampuan input siswa yang belum maksimal, akhirnya kami di SDN 1 Garagata dan hasil kesepakatan dengan seluruh  wali murid, memutuskan untuk mengadakan pembelajaran dengan metode  Blanded Learning atau perpaduan antara daring dan luring terbatas dengan membagi siswa untuk jadwal ke sekolah 1 jam per hari dan hanya boleh kesekolah 3x dalam seminggu. Itupun perkelasnya masih dibagi menjadi 2 shift lagi. Artinya guru dapat bertemu dengan siswa selama 3 jam dalam seminggu. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Dengan cara ini, sedikit mempermudah kelancaran proses pembelajaran bagi siswa yang orang tuanya tidak memiliki smartphone dan guru pun dapat memantau perkembangan siswanya secara langsung.

Tidak ada seorang pun yang menginginkan kondisi belajar seperti ini. Namun jika hal seperti ini terus berlangsung, tentu saja tingkat kemampuan siswa dalam  menerima materi pembelajaran akan kurang maksimal. Semua pihak tentunya berharap agar pandemi ini segera berakhir sehingga proses belajar mengajar di sekolah dapat kembali di laksanakan secara normal. Meskipun demikian, setiap kejadian tentu saja memiliki sisi positip yang bisa di ambil manfaatnya, salah satunya adalah guru dan orang tua menjadi melek teknologi. Yang sebelumnya guru hanya mengajar secara konvensional, dengan di berlakukannya sistem pembelajaran daring ini, banyak guru yang menjadi kreatif membuat video pembelajaran untuk menarik minat belajar siswa. Pun dengan orang tua yang sebelumnya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru di sekolah, selama pembelajaran daring ini, menjadi ikut aktif berpartisipasi membantu anak belajar dirumah sehingga lebih terjalin kedekatan antara orang tua dan anak. (*)