Tiga Pria Tangguh Rela Jalan Kaki Ratusan Kilometer Demi Hadiri Haul Guru Sakumpul Ke 15

 295 total views,  1 views today

Foto : Istimewa

Tanjung, Mercubenua.net – Haul Guru Sekumpul atau Al’alimul ‘Allamah Al’arif Billah As-Syeikh Haji Muhammad Zaini Abdul Ghani adalah putra dari Al-‘Arif Billah Abdul Ghani.

KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani merupakan satu diantara ulama kharismatik yang bukan hanya dihormati oleh ummat, bahkan para ulama dan pejabat pun menghormati sosok beliau.

Haul Guru Ijai atau Guru Sekumpul ke 15 tinggal beberapa hari lagi tepatnya 29 Pebruari 2020.

Yang menarik, mungkin niat atau nazar, tiga hamba Allah yang rela jalan kaki dari kampung halamannya untuk datang secara khusus menghadiri Haul Guru Sakumpul ke 15 di Martapura, Kalimantan Selatan tanggal 29 Pebruari yang akan datang.

Pria tangguh yang pertama adalah Muhammad Arsyad dari Samuda, Sampit (Kotim). Kemudian ada juga Arsyad yang seorang Senpai atau pelatih Karate juga rela jalan kaki dari Kotabaru (Kalsel) , sedangkan Abdullah dari Manggar, Balikpapan (Kaltim) juga siap hadir dalam Haul Guru Sakumpul dengan berjalan kaki.

Arsyad dari Kotabaru (Kalsel)

Haul Guru Sakumpul Ke 15 diperkirakan akan dihadiri oleh lebih dari 1 juta ummat yang datang dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri seperti Arab Saudi, Yaman, negara-negara Arab dan tidak ketinggalan negara Asean sendiri.

Abdullah dari Manggar, Balikpapan – Kaltim

Siapa Tuan Guru KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani Tuan Guru KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang biasa disebut Guru Sekumpul.

Beliau merupakan sekian dari “Permata” yang berada di Martapura Kalimantan Selatan. Tuan Guru KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani putra Haji Abdul Manaf putra Muhammad Seman putra Haji Muhammad Sa’ad putra Haji Abdullah putra Al’alimul ‘alamah Mufti Khalid putra Al’alimul ‘allamah Khalifah Haji Hasanuddin putra Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Beliau dilahirkan di malam Rabu 27 Muharram 1361 H. bertepatan dengan 11 Februari 1942 M di Desa Tunggulirang Seberang, Martapura.

Ketika beliau tinggal di Desa Tunggulirang beliau tidak menyusu kepada ibu beliau, tetapi hanya mengisap air liur Al’arif Billah H. Abdurrahman atau Haji Adu hingga kenyang selama empat puluh hari.

Sewaktu kecil beliau diberi nama Qusyairi. Semenjak kecil beliau merupakan salah seorang anak yang terpelihara (mahfuzh), sifat pembawaan beliau dari kecil yang lain dari yang lain diantaranya adalah beliau tidak pernah bermimpi basah (ihtilam).

Sedari kecil beliau selalu berada disamping kedua orang tua dan nenek beliau yang bernama Salbiah. Beliau dipelihara dengan penuh kasih sayang dan berdisiplin dalam pendidikan agama.

Sejak dini oleh kedua orang tua dan nenek beliau sudah ditanamkan nilai-nilai ketauhidan dan akhlak yang mulia dan penanaman nilai-nilai Qur’ani dengan mengajari beliau al-Qur’an.

Abdul Ghani putra Abdul Manaf, ayah dari KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani juga adalah seorang pemuda yang shalih dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan cerita dan cobaan, tidak pernah mengeluh kepada siapapun.

Beberapa cerita yang diriwayatkan adalah, sewaktu kecil beliau sekeluarga yang terdiri dari empat orang hanya makan satu nasi bungkus dengan lauk satu biji telur dibagi empat. Tak pernah satu kalipun di antara mereka yang mengeluh.

Pada masa-masa itu juga ayahanda beliau membuka kedai minuman. Setiap kali ada sisa teh, ayahanda beliau selalu meminta izin kepada pembeli untuk diberikan kepada beliau. Sehingga kemudian sisa-sisa minuman itu dikumpulkan dan diberikan untuk keluarga.

Adapun sistem mengatur usaha dagang, setiap keuntungan dagang itu mereka bagi menjadi tiga bagian.

Sepertiga untuk menghidupi kebutuhan keluarga, sepertiga untuk menambah modal usaha dan sepertiganya lagi untuk disumbangkan.

Meski dari keluarga dengan ekonomi yang kurang memadai, namun mereka selalu memperhatikan pendidikan anaknya dengan membantu guru-gurunya meski dengan bantuan ala kadarnya.

Setiap berangkat mengaji, beliau (KH. Muhammad Zaini) selalu dibekali dengan sebotol kecil minyak tanah yang diberikan kepada guru beliau, salah satunya adalah kepada Guru Muhammad Hasan, Pasayangan, guru yang mengajari beliau al-Qur’an.

Diusia kurang dari tujuh tahun beliau dimasukkan untuk bersekolah di Madrasah di Kampung Keraton, Martapura, selama dua tahun dan meneruskan ke jenjang selanjutnya di Madrasah Darussalam Martapura hingga selesai.

“Pokoknya Haul Abah Guru ke 15 kali ini partisipasi masyarakat sangat antusias, terbukti setiap warga atau kelompok warga siap membantu para jamaah dalam melaksanakan perjalanan. Meraka menyiapkan rest aria, bengkel, tambal ban, makan dan minum bahkan sampai stiker mobil dan motor. Yang kami sampaikan ini bukan hanya di Kalsel saja, tapi di Kaltim, Kalteng dan Kalbar semua siap melayani Jamaah Haul,” terang H. Aspul Anwar yang juga Jamaah Guru Danau, tinggal di Mabuun. (Wis)

Muhammad Arsyad, seorang warga Samuda, Sampit (Kotim) yang memiliki tekad kuat berjalan kaki untuk menghadiri Haul Guru Sekumpul di Martapura Kalimantan Selatan. (Foto : Istimewa)