Tajuk Rencana

 183 total views,  1 views today

Inflasi dan Deflasi, Pilih Mana?

 

Oleh : Ahmadi Murjani
BPS Kabupaten Tabalong
Kandidat Doktor Ekonomi di Yokohama National University, Jepang

Inflasi dan Targetnya

Inflasi atau kenaikan tingkat indeks harga konsumen sudah menjadi momok bagi kebanyakan orang. Sebut saja imbasnya bagi penurunan tingkat daya beli masyarakat. Ketika terjadi inflasi, maka dengan tingkat pandapatan yang sama, secara riil bisa dimaknai terjadinya penurunan tingkat daya beli. Pemerintah juga menyikapinya dengan melakukan penargetan inflasi tahunan (Targeting Inflation Framework). Menurut data Bank Indonesia, dalam kurun waktu 2015 sampai dengan 2019, pemerintah berhasil menjaga inflasi tahunan dalam kisaran yang ditargetkan yaitu tertinggi pada tahun 2017 sebesar 3,61% dan terendah pada tahun 2019 sebesar 2,72%. Sedangkan inflasi tahunan di Indonesia pada tahun 2020 ditargetkan sebesar 3% (dengan deviasi 1%). Apabila ada kemungkinan terjadinya penyimpangan besaran inflasi terhadap target yang telah ditetapkan, pemerintah akan menggunakan instrumen kebijakan moneter untuk menetralisir penyimpangan tersebut.

Deflasi

Deflasi merupakan kebalikan dari inflasi, yaitu penurunan tingkat indeks harga konsumen. Besaran deflasi dinyatakan dalam negatif (-). Penurunan harga mungkin saja dimaknai sesuatu yang baik bagi konsumen karena tingkat harga yang lebih rendah atau lebih murah. Akan tetapi, deflasi juga merupakan ancaman bagi pertumbuhan ekonomi. Dengan rendahnya tingkat harga, pendapatan bagi produsen juga menurun yang akan berakibat pada penurunan output barang dan jasa, imbas dari rendahnya tingkat upah dan berkurangnya tenaga kerja. Oleh karena itu, jika dilihat secara agregat, deflasi bisa memicu resesi dan meningkatnya jumlah pengangguran. Bagi Indonesia, deflasi jarang terjadi sepanjang tahun dan hanya terjadi pada bulan-bulan tertentu saja. Bahkan tidak pernah tercatat terjadinya deflasi jika dilihat secara tahunan. Lain halnya dengan Jepang, negara ini berupaya untuk memerangi deflasi di negaranya. Berdasarkan data Bank Dunia, sejak terjadinya deflasi tahun 1995, Jepang sering mengalami deflasi tahunan dan beberapa kali terjadi inflasi tahunan yang relatif sangat rendah. Inflasi tahunan tertinggi di Jepang sejak tahun 1995 adalah pada tahun 2014 yaitu sebesar 2,76% sedangkan deflasi tertinggi terjadi pada tahun 2009 sebesar -1,35%. Oleh karena itu, pemerintah Jepang berupaya keras menciptakan inflasi di negaranya, salah satunya yang paling terkenal adalah penggunaan tingkat suku bunga negatif pada BoJ Interest Rate sejak 2016. Tujuan utama kebijakan moneter ini adalah menstimulasi penggunaan uang oleh masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan permintaan barang dan jasa serta terciptanya inflasi.

Inflasi dan Deflasi, Pilih Mana?

Berkaca pada situasi dimana ada negara-negara yang berupaya untuk menciptakan inflasi dan menghindari deflasi, mungkin jawaban sementara dari pertanyaan di atas adalah inflasi. Inflasi boleh saja tidak disukai konsumen dengan adanya peningkatan harga. Akan tetapi bagi perekonomian, inflasi yang terkendali bisa menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan output nasional. Beberapa teori mengemuka tentang hubungan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Hubungan itu bisa berupa positif, negatif, bahkan ada yang mengatakan tidak ada hubungan sama sekali. Pada akhirnya, muncullah suatu teori yang menyatakan bahwa inflasi memberikan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi sampai mencapai ambang batas inflasi tertentu, lalu memberikan pengaruh yang negatif jika melebihi ambang batas tersebut. Seberapa besar ambang batas inflasi tersebut, para peneliti menyarankan berbagai tingkat seperti 5%, 7%, 9%, 13%, bahkan ada yang menyatakan 20%. Terlepas dari semua ambang batas yang ditemukan para peneliti tersebut, pemerintah Indonesia menargetkan inflasi tidak pernah melebihi dari 10% sejak tahun 2001 dan target tersebut terus diturunkan sampai tahun 2020. Penargetan inflasi tahunan sangat penting untuk pelaku bisnis dan masyarakat dalam aktifitas ekonomi mereka selama periode satu tahun ke depan. So, jangan alergi mendengar inflasi, asalkan masih terkendali.