Adaro Dorong Koperasi Dermawan Bangkitkan Ekonomi Umat Melalui Mesjid Berdaya

 137 total views,  1 views today

Gambar: Salah satu Jamaah Pengajian Muamallah Program Mesjid Berdaya Adaro. (Sumber: Koperasi Dermawan)  

“Ide ini semula berakar dari keprihatinan terhadap orang tua sahabat kita yang terjerat dengan rentenir”, ujar Zulrifan mulai menceritakan Program Mesjid Berdaya Adaro kepada Mercu Benua.

TANJUNG, Mercubenua.net – Mesjid merupakan tempat strategis untuk pembangunan dan pemberdayaan umat, salah satunya dalam sektor ekonomi. Namun saat ini, potensi pemberdayaan ekonomi umat di mesjid belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, diperlukan peningkatan fungsi mesjid sebagai media pemberdayaan ekonomi umat.

“Mesjid juga sangat potensial menjadi basis pemberdayaan ekonomi umat. Potensi ini dalam waktu yang cukup lama belum termanfaatkan secara baik. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengembalikan salah satu fungsi mesjid sebagai media pemberdayaan ekonomi umat”, ujar Zulrifan Noor Pendidiri Koperasi Dermawan, beberapa waktu lalu di Tanjung.

Pendiri Koperasi Dermawan di Kabupaten Tabalong itu nampak sangat antusias dan optimis dapat Membangun Perekonomian umat Berbasis Mesjid.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa rekannya Mas Zul itu menilai, kondisi saat ini masih ada yang belum memahami dan menilai mesjid tidak tepat untuk dijadikan pusat aktifitas ekonomi. Untuk itu, diperlukan model yang mendorong jemaah untuk terlibat secara langsung di dalamnya.

“Di antara cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjadikan para jemaah mesjid sebagai mata rantai ekonomi yang terintegrasi sebagai konsumen, produsen dan pemilik dalam kegiatan ekonomi yang dibangun melalui mesjid, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari”, ujar Mas Zul.

Kepada wartawan Mercu Benua, Mas Zul menjelaskan upaya membangun ekonomi umat. Salah satu yang dilakukan Koperasi Dermawan adalah melalui Mesjid Berdaya Adaro.

“Ide ini semula berakar dari keprihatinan terhadap orang tua sahabat kita yang terjerat dengan rentenir”, ujar Zulrifan mulai menceritakan Program Mesjid Berdaya Adaro kepada Mercu Benua.

Dimulai dengan dana pribadi, Zulrifan mengajak warga-warga di sekitar kediamannya untuk melakukan Pengajian Muamallah (Kegiatan majelis Taklim) sekaligus dilakukan pembinaan dan pemberdayaan tentang pengetahuan pengelolaan keuangan secara syar’i, terutama masalah utang piutang.

Dalam kegiatan Program Mesjid Berdaya Adaro, masyarakat khususnya kaum ibu-ibu rumah tangga diberikan pemberdayaan melalui pengajian mejelis taklim tentang Muamallah.“Kenapa yang kita utamakan ibu-ibu? Karena ibu adalah madrasatul ula di dalam keluarga. Sekolah pertama bagi anak-anaknya. Jadi, salah satunya harus bisa membantu mengelola keuangan dalam keluarganya”, jelas Zulrifan.

Ia mengungkapkan tidak jarang semula motivasi para jamaah untuk ikut Pengajian Muamallah Koperasi Dermawan ialah untuk bisa meminjam atau berhutang. Karena memang melalui Program Mesjid Berdaya Adaro sendiri salah satu layanannya adalah menyiapkan dana pinjaman yang bisa digunakan untuk bermodal usaha.

Tidak mudah untuk membangun kepercayaan jamaah terhadap program tersebut, bahkan sempat dinyatakan sejumlah pihak program tersebut malah mengajak dan mengajari orang-orang agar berhutang.

“Namanya memulai ya mas, tidak ada yang mudah. Namun sampai saat ini, sebelumnya orang itu adalah pelaku rentenir sekarang ikut menjadi jamah kita. Tujuan sebenarnya adalah untuk membebaskan para jamaah yang terlilit utang dan mampu mandiri hingga membantu orang yang membutuhkan”, tegas Zul.

Gambar: Pendiri Koperasi Dermawan, Zulrifan Noor isi Kajian Muamallah di salah satu Mesjid yang disasar Program Mesjid Berdaya Adaro. (Sumber: Koperasi Dermawan)

Tidak melulu soal itu, para jamaah diajak untuk menyisihkan sebagian penghasilannya yang dijadikan sebagai infaq dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama. Program Mesjid Berdaya Adaro yang dilaksanakan Koperasi Darmawan melakukan pendampingan (Pengajian Muamallah) secara rutin selama sepuluh bulan dan dilakukan setiap pekan.

“Tidak serta merta langsung dipinjamkan. Para jamaah harus mengikuti Pengajian Muamallah dahulu minimal empat kali pertemuan. Harus betul paham dan mengerti kemudian juga dilakukan verifikasi”, terangnya.

Kemudian, terang Zulrifan selama pendampingan berupa pengajian Muamallah para jamaah mengumpulkan Infaq yang dikelola oleh jamaah. Sehingga pada akhirnya nanti para jamaah yang memang sudah sampai pada waktu sepuluh bulan masa pendampingan akan memiliki aset dan mampu memanfaatkannya sebagai salah satu sumber pembangun ekonomi baru dalam keluarga. Termasuk mampu membantu sanak familinya yang masih tergolong mustahik dan membutuhkan uluran tangan.

“Jadi kita melalui Program Mesjid Berdaya Adaro dengan pembinanaan melalui Pengajian Muamallah ingin membantu jamaah agar mampu membangun ekonomi dan menolong saudaranya yang membutuhkan. Kita akan lakukan pendampingan sampai mereka mampu”, imbuhnya.

Terbatasnya modal untuk membantu jamaah dalam menyiapkan pinjaman ternyata adalah tidak hanya masalah utama juga, pertama adalah karena modal sendiri dan kedua yang itu tadi adalah dananya yang terbatas. Maka dari itu, sejak memulai menjalankan program itu, pendampingan hanya dilakukan bagi jamaah masjid di sekitar kediaman Mas Zul saja dan di Mesjid Muhajirin di Desa Padang Panjang Kecamatan Tanta. Selebihnya tidak bisa, meski banyak yang memohon untuk ikut dalam Pengajian Muamallah tersebut.

“Awal-awal masih terbatas jamaah yang bisa kita bantu mas”, timpalnya.

Namun ibarat Peribahasa, Gayung Bersambut Tepuk Berbalas, ide atau gagasan Pendiri Koperasi Dermawan di Tabalong, Zulrifan Noor itu tentang upaya membangun ekonomi umat melalui mesjid terdengar oleh Pihak PT Adaro Indonesia.

Kran Corporate Social Responsibility (CSR) Adaro pun terbuka. Pihaknya pun menyatakan siap untuk memberikan dukungan kepada Koperasi Dermawan agar lebih banyak lagi masyarakat Tabalong melalui mesjid-mesjid terbangun perekonomiannya.

Setelah dibantu Adaro dengan CSR, jumlah kelompok Pengajian Muamallah oleh Koperasi Dermawan pun meningkat berkali-kali lipat. Semula hanya dua kelompok kini sudah menjadi delapan kelompok. Ada di Kecamatan Murung Pudak, Kecamatan Tanta dan Tanjung.

Lebih uniknya lagi, pembinaan melalui pengajian Muamallah yang salah satunya dilakukan di Kecamatan Tanjung, bagi jamaah yang memiliki pinjaman bisa melakukan pelunasan dengan menggunakan sampah sebagai pembayaran.

“Jadi jamaah yang ada memiliki pinjaman mereka melakukan pembayaran setiap kali pertemuan pengajian Muamallah. Kita juga bekerja sama dengan Bank Sampah, jamaah bisa bayar menggunakan sampah, nanti setiap kewajibannhya dipotong dari situ. Jamaah juga memiliki infaq yang dikelola oleh jamaah langsung dan asetnya milik jamaah juga”, cakap Zul.

Dengan demikian, ia berharap kehadiran mesjid dapat menjadi media untuk memberdayakan ekonomi umat yang menjadi jemaah mesjid, sehingga keberadaannya betul-betul dibutuhkan oleh masyarakat sekitar mesjid.

Terpisah, sebelumnya Manager CSR PT Adaro Indonesia, Firman menegaskan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara dengan wilayah konsesi di dua Provinsi yaitu Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yang meliputi sejumlah Kabupaten di antaranya Tabalong, Hulu Sungai Utara, Balangan, Barito Timur dan Barito Selatan akan terus memaksimalkan penggunaan CSR dalam melaksanakan pembinaan, pemberdayaan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di lingkungan perusahaan.

CSR yang disalurkan tersebut meliputi berbagai bidang program, mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial budaya dan lingkungan. Termasuk support Program Mesjid Berdaya Adaro di Kabupaten Tabalong.

“Kita terus berupaya meningkatkan perekonomian masyarakat  di lingkungan perusahaan melalui program CSR”, pungkasnya. (mer/din)