Kisah Rawa Lebak, Ilung dan Eskavator Ampibi di Tengah Dialog Bupati Tabalong Bersama Warga

“Saya berharap sekali lahan pertanian yang tidak pernah digarap bisa ditanami minimal satu kali dalam setahun, yang sudah bisa satu kali bisa dua kali, yang sudah bisa dua kali mudah-mudahan lahan sawahnya bisa disisipi dengan tanaman hortikultura. Pemerintah Daerah sangat serius terkait hal ini,” tegas H Fani.

TANJUNG, Mercubenua.net – Di balik hamparan lahan pertanian yang subur di kawasan rawa lebak Padangin-Madang, terdapat sebuah tantangan besar yang mengancam produktivitas pertanian.

Adalah tanaman Ilung yaitu salah satu gulma air, salah satu yang telah menjadi hambatan utama bagi petani di wilayah ini. Kesuburannya menghalangi aliran air yang sangat penting untuk persiapan musim tanam padi.

Tanaman ini tumbuh subur di kawasan rawa lebak, dan menjadi momok bagi para petani yang mengandalkan lahan ini untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Kendala ini juga yang membuat petani semakin kesulitan mengelola lahan, bahkan untuk sekadar memulai penanaman benih padi.

Riza, salah seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) mengungkapkan hal tersebut langsung dihadapan Bupati Tabalong, Ir HM Noor Rifani saat berdialog usai menanam Benih Jagung Pakan di Lahan Ketahanan Pangan Kelompok Tani (Poktan) Nusantara Bersatu, RT 5 Desa Padangin Kecamatan Muara Harus, Kamis kemaren.

Pernyataan Riza mencerminkan kondisi yang dihadapi oleh banyak petani di kawasan tersebut. Masalah yang nampak sederhana namun mengganggu siklus pertanian yang menjadi tumpuan warga.

Seperti yang telah disampaikan Riza, sekitar 30 Hektar lahan rawa lebak di Desa Padangin-Madang sulit diolah, sementara bila musim tanam tiba dan benih sudah tumbuh besar sedangkan lahan tidak bisa ditanami.

“Kami baru-baru tadi sebelum musim tanam, dari 90 hektar baku sawah lebak Padangin-Madang, itu ada sekitar 30 hektar yang lahannya terkendala oleh tanaman Ilung,” ungkap Riza.

“Ilung itu yang membuat air tidak turun. Rata-rata ilung itu yang memperlambat air surut,” tambahnya.

Lanjut Riza tanaman ilung itu, menjadi salah satu faktor yang membuat sulit untuk mengimplementasikan program-program pemerintah.

Melalui musyawarah, warga meminta bantuan kepada Pemerintah Daerah untuk membersihkan tanaman Ilung tersebut. Salah satunya dengan menggunakan eskavator ampibi, alat yang dirancang untuk beroperasi di lahan rawa yang rencananya akan disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Tabalong.

Alat ini diyakini akan sangat membantu dalam mempercepat proses pengeringan lahan dan memudahkan penanaman padi.

“Warga mengusulkan melalui musyawarah agar Ilung itu bisa dibersihkan melalui bantuan dari pemerintah. Dengan menggunakan eskavator ampibi,” tandas Riza.

Senada sengan Riza, Vianka seorang PPL yang sebelumnya juga pernah bertugas di Desa Madang mengungkapkan hal yang sama.

“Selama saya bertugas, masalah utama yang saya lihat ialah lahan sawah yang ditanami warga luasnya semakin sedikit di karenakan karena kondisi yang tidak bisa diatur,” kata Vianka.

Disisi lain, menanggapi permasalahan itu, Bupati Tabalong HM Noor Rifani menyebutkan pemerintah daerah telah merencanakan solusi jangka panjang untuk melakukan normalisasi kawasan rawa lebak.

“Saya sudah memetakan daerah rawa lebak ini. Kelemahan kita adalah peralatan untuk melakukan normalisasi. Makanya kita siapkan, insyaallah di awal 2026 sudah datang alatnya (Eskavator ampibi),” tandas Bupati.

Eskavator Ampibi menjadi asa untuk mendukung upaya meningkatkan produktivitas pertanian, terutama di wilayah selatan. Termasuk di Desa Padangin-Madang.

“Alat itu di wilayah selatan akan dimanfaatkan untuk upaya menormalisasi ini (lahan). Harapannya pertanian kita akan meningkat semuanya,” ujarnya.

Bupati yang biasa disapa H Fani ini sangat berharap lahan pertanian yang selama ini tidak pernah bisa digarap bisa ditanami oleh petani.

“Saya berharap sekali lahan pertanian yang tidak pernah digarap bisa ditanami minimal satu kali dalam setahun, yang sudah bisa satu kali bisa dua kali, yang sudah bisa dua kali mudah-mudahan lahan sawahnya bisa disisipi dengan tanaman hortikultura. Pemerintah Daerah sangat serius terkait hal ini,” tegas H Fani.

Bagi warga dan petani, bukan saja di Padangin-Madang, bantuan dari pemerintah berupa alat eskavator ampibi merupakan angin segar dan menjadi sebuah harapan.

Tanaman Ilung yang selama ini menghalangi aliran air akan teratasi, dan petani bisa kembali menanam padi tanpa gangguan yang berarti.

Bagi mereka, musim tanam yang tertunda bukan sekadar keterlambatan fisik, tapi juga berhubungan dengan mata pencaharian.

Dengan teratasi masalah gulma air, mereka berharap dapat meningkatkan hasil panen dan mengurangi kerugian hingga meraih hasil yang lebih baik dari lahan yang selama ini terbengkalai. (mer/din)