
TANJUNG, Mercubenua.net – Sekitar 79 hektare lahan perkebunan karet milik warga rusak akibat terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) melalui Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan, Anik Patsih Wati, kepada wartawan di Tanjung Kamis lalu.
“Sementara datanya sekitar 79 hektare lahan yang terbakar akibat karhutla,” ujar Anik.
“Masih kami lakukan inventarisir data kebun yang terbakar, karena ini ada laporan masuk,” tambahnya.
Ia menjelaskan DKPPP Tabalong sudah melakukan berbagai langkah untuk mencegah terjadinya Karhutla pada kebun karet.
Salah satunya membentuk Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang berfungsi untuk menyadarkan pekebun lain agar tidak membuka lahan secara membakar.
DKPPP Tabalong juga memberikan sarana operasinal KTPA berupa sepeda motor roda tiga dengan muatan tanki air dan pompa untuk pemadaman api Karhutla.
“Warga diedukasi soal program Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB),” tandasnya.
Ia menambahkan apabila ada warga yang berminat penerapan PLTB, mereka bisa mengajukan proposal permohonan ke DKP3, sehingga alat berat bisa diturunkan ke lahan yang akan dibersihkan.
“Ada prosedur untuk PLTB. Tidak bisa langsung dikerjakan,” terangnya.
Terpisah, Salah seorang warga pemilik lahan perkebunan karet, Supianor, berharap Pemerintah Daerah (Pemda) memberikan perhatian terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengakibatkan kebun karet milik warga turut terbakar.
“Data secara menyeluruh agar pemerintah mengetahui kondisi kebun yang terdampak serta kerugian yang dialami para pekebun, terutama warga yang menggantungkan penghasilan dari hasil perkebunan karet,” pintanya. (din/*)