Langkah Kecil, Bahagia Besar: Kesederhanaan yang Menghangatkan di Jalan Santai Desa Pugaan

Di balik hadiah sederhana dan rute yang tak seberapa panjang, warga Desa Pugaan Kecamatan Pugaan Kabupaten Tabalong menemukan makna kebersamaan yang tak ternilai.

TANJUNG, Mercubenua.net – Pagi itu, embun dibawah langit Desa Pugaan masih belum sepenuhnya mengering di daun-daun tanaman saat puluhan warga mulai berdatangan ke balai desa.

Bukan untuk rapat atau urusan administrasi, tapi untuk sebuah acara yang sederhana tapi selalu dinanti, Jalan Santai Berhadiah dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) ke-80.

Tak ada baliho besar atau panggung megah. Hanya tumpukan beberapa hadiah menarik dan kursi-kursi yang telah ditata panitia di Kantor Desa Pugaan, Minggu (31/8/2025).

Namun dari raut wajah warga, terlihat jelas kebahagiaan tidak butuh kemewahan. Namun yang penting serunya bareng-bareng.

Salah seorang warga, yang turut dalam jalan santai itu, ia datang bersama cucunya yang masih duduk di bangku SD. Mereka mengenakan kaos olah raga.

Rute jalan santainya tidak jauh, namun setiap langkah dipenuhi cerita. Anak-anak bercanda, para ibu saling menanyakan resep, dan para bapak berbagi kabar panen.

Tak lama setelah finis, panitia mulai mengocok undian. Hadiahnya pun mulai dari yang sederhana, ada ember plastik, setrika, karpet, dispenser, lemari, kipas angin hingga yang paling mewah mesin cuci.

Setiap kupon peserta ditukarkan panitia dengan detergen yang sudah disiapkan panitia. Tawa dan sorak-sorai yang terdengar tidak kalah meriah daripada konser di kota.

“Ini yang bikin saya kangen kampung. Walaupun sederhana, tapi hangat,” ujarnya bercanda dengan wartawan.

Panitia menyediakan kue tradisional dan air minum bagi setiap peserta.

Meskipun tidak semua peserta nomornya mendapatkan hadiah undian, namun tak ada yang pulang dengan tangan kosong, karena semua pulang membawa cerita.

Jalan santai ini membuktikan, bahwa kebahagiaan tidak selalu soal hadiah besar atau acara megah. Kadang, cukup dengan jalan kaki bersama, sepotong roti dan air serta senyum dari tetangga.

“Hidup itu bukan soal seberapa jauh kita melangkah, tapi dengan siapa kita melangkah,” tandasnya sembari tertawa riang. (mer/din)