
“Sejauh ini kita belum mendapat konfirmasi adanya temuan yang mereka dapatkan. Mereka juga mengerahkan tim ahli dan juga bantuan satelit untuk mencari hal-hal tersebut,” jelasnya.
PARINGIN, Mercubenua.net – Banjir yang melanda Kecamatan Tebing Tinggi beberapa waktu lalu, disebut terjadi akibat faktor cuaca ekstrem dengan curah hujan yang sangat tinggi. Hal ini sekaligus menepis sejumlah pernyataan yang beredar terkait dugaan keterkaitan banjir dengan aktivitas pertambangan maupun perkebunan sawit di wilayah hulu sungai.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balangan, H Rahmi, mengatakan berdasarkan rilis data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Perwakilan Kalimantan Selatan yang disampaikan dalam rapat koordinasi, intensitas hujan yang turun jauh melampaui ambang normal.
“Kalau dibayangkan itu kapasitas untuk setengah bulan ditumpahkan dalam satu malam. Jadi kondisi pegunung kita bagaimana pun tidak bisa menampung untuk melakukan peresapan dalam waktu yang singkat,” terangnya, Rabu kemarin.
Menanggapi dugaan adanya aktivitas pertambangan sebagai penyebab banjir bandang, Rahmi menegaskan tidak terdapat kegiatan tambang di wilayah hulu sungai yang terdampak.
“Dari sisi peta kami melihat bersama Tim Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup, sejauh ini belum terkonfirmasi,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa saat kunjungan Menteri Lingkungan Hidup ke Balangan, kementerian terkait turut menugaskan tim Gakkum untuk memastikan kondisi kerusakan hutan maupun kerusakan ekologis di wilayah Tebing Tinggi.
“Sejauh ini kita belum mendapat konfirmasi adanya temuan yang mereka dapatkan. Mereka juga mengerahkan tim ahli dan juga bantuan satelit untuk mencari hal-hal tersebut,” jelasnya.
Selain dugaan pertambangan, isu penebangan hutan juga turut mencuat. Namun Rahmi menyebut, saat peristiwa banjir bandang tidak ditemukan material hasil penebangan yang terbawa arus sungai.
“Kalau ada pasti dampak bakal lebih parah, karena menghantam rumah-rumah. Berdasarkan kesaksian warga sendiri, hanya air dengan arus yang deras,” terangnya.
Berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi lintas instansi tersebut, Rahmi menegaskan hingga kini pihaknya belum menemukan indikasi yang mengarah pada dugaan bahwa banjirdi Kecamatan Tebing Tinggi disebabkan oleh aktivitas pertambangan maupun perkebunan sawit di wilayah hulu. Banjir tersebut murni dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan yang sangat tinggi. (din)