Talam “Disurung”, Ekonomi Warga Ikut Bergerak

TANJUNG, Mercubenua.net – Di wilayah Banua Lawas sebuah talam bukan sekadar wadah makanan yang disiapkan untuk disantap bersama. Namun di balik tradisi yang yang tampak sederhana itu, tersimpan pergerakan ekonomi yang tidak kecil.

Tradisi Makan Batalam kembali digelar dalam rangkaian Gebyar Maulid dan Doa Bersama di Bumi Pusaka, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong. Tahun ini, jumlahnya mencapai 806 talam yang tersebar di 22 stan.

Angka itu bukan hanya menunjukkan besarnya partisipasi masyarakat. Jika dilihat dari sisi ekonomi, ratusan talam berarti ada ratusan kebutuhan bahan makanan yang harus dipenuhi. Di situlah Warisan Budaya Makan Batalam bekerja dalam cara yang berbeda, yaitu menggerakkan ekonomi tanpa harus kehilangan nilai-nilainya.

Sebuah kegiatan makan bersama dalam skala besar membutuhkan bahan pangan dalam jumlah besar pula. Ada beras yang harus dibeli. Ada lauk pauk yang disiapkan, bumbu harus cukup hingga perlengkapan penyajian yang tidak boleh kurang. Rantai belanja tersebut membuka ruang bagi banyak pelaku ekonomi lokal. Baik itu pelaku UMKM, peternak, hingga pasar.

Pedagang pasar mendapatkan pembeli. Petani dan peternak memiliki pasar untuk hasil produksinya. Warung dan usaha rumahan memperoleh kesempatan menyediakan kebutuhan kegiatan. Dengan demikian, nilai ekonomi dari Batalam tidak berhenti pada makanan yang tersaji di atas talam. Ia bergerak dari satu tangan ke tangan lainnya.

Peningkatan jumlah stan menjadi 22 dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan bahwa kegiatan ini berkembang. 806 talam seharusnya dapat dibaca sebagai 806 pintu cerita ekonomi masyarakat. Setiap talam memiliki orang yang menyiapkan makanan. Ada keluarga yang memasak, ada yang membeli bahan, ada yang menyediakan perlengkapan, dan ada pula tenaga yang bekerja di balik persiapan kegiatan.

Jika tradisi ini terus berkembang dan dikemas secara konsisten setiap tahun, dampaknya bisa lebih panjang daripada satu hari perayaan. Bukan sekadar menjadi bagian dari kalender kegiatan budaya untuk menarik pengunjung dari luar Tabalong.

“Dampak ekonominya tentu saja ini meningkatkan pendapatan, terutama UMKM di wilayah Banua Lawas. Mudahan tahun depan semakin besar lagi kapasitas pelaksanaannya,” kata Camat Banua Lawas, Arianto pada wartawan, kemarin.

800 lebih talam digarap ditingkat kecamatan Banua Lawas sendiri, ini membawa sesuatu yang luar biasa bagi pear pelaku UMKM, pendapatan bertambah ekonomi bergerak.

Di sejumlah daerah, tradisi lokal tidak berhenti sebagai warisan budaya. Ia dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Batalam memiliki modal untuk menuju arah tersebut.

Tradisi ini memiliki cerita, nilai religius, kebersamaan, gotong royong dan keterlibatan masyarakat dalam jumlah besar. Jika dikelola dengan baik, kedatangan pengunjung tidak hanya menghasilkan keramaian di lokasi acara.

Pengunjung tidak hanya membutuhkan makanan dan minuman. Tapi bisa saja tempat belanja, oleh-oleh, dan berbagai kebutuhan lainnya. Di sinilah UMKM lokal dapat mengambil peran.

Di Banua Lawas, 806 talam mungkin tampak seperti 806 hidangan yang tersusun untuk sebuah perayaan. Tetapi jika dilihat lebih dekat, di balik setiap talam ada beras yang ditanam, ada itik dan ayam yang dipelihara kemudian ditangkap, bawang yang dipanen, bumbu yang dijual, makanan yang dimasak, dan tenaga manusia yang bekerja. Ada uang yang berputar, ada usaha yang hidup. Makan Batalam salah satu warisan budaya dapat menjadi salah satu cara masyarakat dalam menggerakkan ekonominya sendiri.

Mulyadi (51) misalnya, salah satu warga yang berternak itik. Setiap bulan Rabiul Awal atau bulan Maulid, ia mengaku, pesanan itik untuk acara Batalam selalu meningkat.

“Harganya lumayan. Kalau bulan Maulid, orang ramai makan batalam, jadi pesanan itik meningkat,” selorohnya.

Ungkapan Mulyadi menunjukkan bahwa geliat ekonomi dari tradisi Makan Batalam menghadirkan transaksi-transaksi kecil di tengah masyarakat. Dari peternak itik, pedagang pasar, pelaku UMKM hingga keluarga yang menyiapkan hidangan, semuanya ikut merasakan dampak dari tradisi yang terus dipertahankan tersebut.

Menjaga Makan Batalam bukan hanya soal merawat warisan budaya, tetapi juga mempertahankan sebuah ruang ekonomi yang tumbuh dari kebersamaan dan gotong royong. Semakin besar tradisi ini digelar dan semakin luas keterlibatan masyarakat di dalamnya, semakin besar pula peluang Batalam menjadi kekuatan budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal. (din)