Dorong Perekonomian Kelompok Wanita Tani, PHSS Fasilitasi Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami (ibu rumah tangga) yang tergabung dalam KWT,” harap Ketua KWT Tanjung Flamboyan, Elizabeth Novi.

Kukar, Mercubenua.net – PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) menyelenggarakan pelatihan tentang replikasi pertanian terpadu berbasis maggot dan budidaya lele bioflok bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara.

Pelatihan ini dilaksanakan di Rumah Maggot Anggana, Desa Sungai Mariam. Adapun pesertanya ialah KWT Berseri, KWT Rumpun Cemara, KWT Anggrek Jaya, KWT Sri Rejeki, KWT Cendana Makmur, KWT Mawaddah, dan KWT Tanjung Flamboyan.

Berkolaborasi dengan Rumah Maggot Anggana (RMA), pelatihan yang didukung PHSS ini merupakan bagian dari program pelibatan dan pengembangan masyarakat, yaitu Program SI TERANG (Sinergi Pertanian Organik, Budidaya Maggot dan Peternakan) Kecamatan Anggana yang sudah memasuki tahun kelima.

Manager Communication Relations & CID PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Dony Indrawan, menyampaikan pihaknya berkomitmen untuk menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) atau CSR Perusahaan melalui program-program pelibatan dan pengembangan masyarakat atau Community Involvement & Development (CID) yang mampu mendukung pengembangan ekonomi dan kemandirian masyarakat. Termasuk, pelestarian lingkungan.

Ia yakin bersama masyarakat, pelaksanaan program tanggung jawab akan efektif dan memberikan dampak positif serta berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial dan lingkungan Perusahaan merupakan langkah strategis untuk memastikan efektivitas, dampak positif, dan keberlanjutan program,” jelas Dony Indrawan, Rabu (10/9/2025).

Menurut Dony, Program SI TERANG yang dinisiasi oleh PHSS berhasil membuktikan bahwa inovasi dalam pengelolaan sampah organik dapat diintegrasikan dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Khususnya kelompok rentan, yaitu perempuan di desa.

“Di program ini, kami mendorong replikasi sistem pertanian terpadu berbasis maggot dan budidaya lele bioflok yang melibatkan kelompok wanita tani,” terangnya.

“Program ink diharapkan akan mendukung pemberdayaan kelompok rentan dan menjadi contoh penerapan pendekatan ekonomi sirkuler dalam pelaksanaan program CID perusahaan yang berkelanjutan,” tambah Dony.

Dengan pendekatan kolaboratif dengan semua pemangku kepentingan, termasuk kelompok tani, pemerintah daerah, praktisi di bidangnya, program ini diharapkan terus berkembang menjadi model berkelanjutan yang dapat direplikasi di desa-desa lain di wilayah operasi Perusahaan.

Dalam pelatihan tersebut para peserta mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal.

Ketua Rumah Maggot Anggana Sujatmiko Ariwibowo menyampaikan materi edukasi mengenai budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi masalah sampah organik rumah tangga yang tidak terangkut di wilayah Anggana yang mencapai sekitar 45,3 persen.

Melalui demonstrasi penggunaan Mago Box, para peserta diperkenalkan dengan konsep ekonomi sirkular sederhana yang dapat menghasilkan pakan alternatif ternak maupun ikan.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir pemateri dari praktisi budidaya perikanan dengan teknologi bioflok (Budidaya Ikan Lele Bioflok), Nanang, yang memberikan penjelasan mengenai konsep, persiapan media seperti penggunaan garam dan probiotik, serta demo penebaran benih lele dan penggunaan aerator.

Seluruh peserta juga berkesempatan melakukan praktik langsung pemasangan kolam bioflok yang menjadi bekal teknis penting bagi kelompok tani dalam pengembangan usaha secara mandiri.

Rangkaian kegiatan pelatihan juga diisi sesi interaktif dengan tanya jawab terkait teknis, evaluasi pasca pelatihan melalui post-test, serta kuis.

Melalui program ini, PHSS mendorong sinergi multipihak antara masyarakat, pemerintah, akademisi dan sektor swasta dalam mewujudkan model ekonomi sirkular berbasis desa.

Pasalnya, hal ini sejalan dengan kebutuhan untuk menghadirkan alternatif pakan yang lebih ekonomis dan berkelanjutan, sekligus menjawab tantangan pengelolaan sampah organik rumah tangga.

Disisi lain, peserta pelatihan juga memberikan apresasi kepada PHSS terhadap terselenggaranya pelatihan tentang replikasi pertanian terpadu berbasis maggot dan budidaya lele bioflok bagi Kelompok Wanita Tani.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami (ibu rumah tangga) yang tergabung dalam KWT,” harap Ketua KWT Tanjung Flamboyan, Elizabeth Novi.

Ua menila program ini outputnya sangat bermanfaat dalam mencukupi kebutuhan pangan keluarga.

“Semoga ke depannya kegiatan ini bisa mencukupi untuk swasembada pangan keluarga kami, terutama untuk kelompok KWT,” tandasnya. (mer/din)