
“Ini masih satu tahun enam bulan, ada tiga tahun empat bulan. Mari kita bersama-sama mewujudkan Tabalong Smart. Tidak bisa dikerjakan sendiri, tidak bisa juga satu ke kanan dan satu ke kiri. Semua harus sama, gerak yang sama, bersama-sama berkolaborasi, bersinergi, harus itu,” ujar H Fani.
TANJUNG, Mercubenua.net – Rasa syukur dan bahagia dirasakan warga Kampung Jaan, Desa Pamarangan Kiwa, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong, setelah aliran listrik PLN akhirnya menerangi permukiman mereka. Bagi warga, hadirnya listrik bukan sekadar membuat malam menjadi terang, tetapi menjadi penanda berakhirnya penantian panjang yang telah berlangsung dari beberapa generasi.
Salah seorang warga penerima program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL), Hairul tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Sehari-hari, pria berusia 53 tahun tersebut bekerja sebagai penyadap karet untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah memperhatikan masyarakat di Kampung Jaan, yang berada cukup jauh dari pusat kecamatan.
“Kita sangat bersyukur dan memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah karena telah memperhatikan desa kami. Kami sangat berterima kasih karena pemerintah memperhatikan desa kami yang terpencil ini,” ujar Hairul kepada wartawan, Sabtu (5/9/2026).
Bagi Hairul, kehadiran listrik PLN memiliki arti yang begitu besar. Sebab, sejak dirinya masih kecil hingga kini, warga Kampung Jaan belum pernah menikmati layanan listrik PLN secara langsung. Ia mengungkapkan, penantian tersebut bahkan telah berlangsung sejak generasi orang tua hingga dirinya sekarang.
“Umur kita 53 tahun. Dari bapak kita, datuk kita, dari orang tua kita, istilahnya sudah tiga generasi, ini baru kami merasakan layanan listrik PLN,” tuturnya.
Selama bertahun-tahun, kebutuhan penerangan warga pada malam hari dipenuhi dengan memanfaatkan panel surya. Sebagian warga membeli perangkat tersebut secara mandiri. Menjelang masuknya listrik PLN, pemerintah juga sempat memberikan bantuan panel surya untuk membantu kebutuhan penerangan masyarakat.
Namun, penggunaan panel surya memiliki keterbatasan. Ketika cuaca mendung dan matahari tidak cukup terik, proses pengisian aki menjadi tidak maksimal. Daya yang tersimpan pun tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan penerangan sepanjang malam.
“Kalau menggunakan panel surya, kalau matahari sudah mendung itu tidak berfungsi penyetruman aki, tidak kuat, sering gelap kalau malam hari kami di sini,” katanya.
Karena itu, masuknya listrik PLN menjadi kabar yang sangat berarti bagi warga. Kini, mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca untuk mendapatkan penerangan pada malam hari.
Hairul berharap hadirnya listrik menjadi awal dari perhatian dan pembangunan yang lebih luas bagi Kampung Jaan. Menurutnya, masih ada kebutuhan mendasar lainnya yang perlu mendapat perhatian pemerintah, terutama berkaitan dengan infrastruktur, yakni melanjutikan perbaikan infrastruktur jalan jalan jembatan. Akses infrastruktur yang baik sangat dibutuhkan masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Disisi lain, Bupati Tabalong Ir HM Noor Rifani (H Fani) mengatakan, keberhasilan menghadirkan listrik PLN di Kampung Jaan merupakan buah kebersamaan dan kolaborasi berbagai pihak.
Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan berbagai harapan masyarakat yang disampaikan selama dirinya berkeliling menemui warga.
“Program Tabalong SMaRT (Sejahtera, Maju, Religius, Terdepan) ini program “pian barataan” (semua warga, red) yang didapat selama kami berkeliling ke masyarakat. Banyak harapan-harapan yang disampaikan, banyak yang sudah kita lakukan, namun tentu masih banyak yang belum juga. Tetapi kami terus berupaya,” kata H Fani saat peresmian realisasi program BPBL.
Ia menegaskan, masa kepemimpinannya masih menyisakan waktu yang cukup panjang sehingga berbagai kebutuhan masyarakat akan terus diupayakan untuk diwujudkan secara bertahap.
“Ini masih satu tahun enam bulan, ada tiga tahun empat bulan. Mari kita bersama-sama mewujudkan Tabalong Smart. Tidak bisa dikerjakan sendiri, tidak bisa juga satu ke kanan dan satu ke kiri. Semua harus sama, gerak yang sama, bersama-sama berkolaborasi, bersinergi, harus itu,” ujarnya.
Menurut H Fani, hadirnya listrik PLN di Kampung Jaan menjadi salah satu bukti nyata bahwa pembangunan dapat terwujud apabila seluruh pihak memiliki komitmen dan bergerak bersama. Ia menyebut, pemasangan jaringan listrik di wilayah tersebut tidak akan terlaksana tanpa dukungan masyarakat dan pihak-pihak terkait.
Ia menjelaskan, PLN juga membutuhkan dukungan dalam bentuk ketersediaan lahan untuk pembangunan infrastruktur kelistrikan. Karena itu, kesediaan masyarakat untuk menghibahkan atau menyediakan tanah menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
“PLN tidak bisa memasang ini kalau tidak dihibahkan tanah, tidak ditabangi (ditebangi) kayu, tidak bisa. Ini perlu kolaborasi, kalau masyarakat pemilik tanah tidak mau, tidak bisa juga,” katanya.
Atas dukungan tersebut, H Fani menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, khususnya para pemilik lahan yang telah memberikan dukungan serta warga yang turut bergotong royong dalam membantu proses masuknya listrik PLN ke Kampung Jaan.
Kampung Jaan sendiri adalah wilayah Desa Pemarangan Kiwa RT 06 berjarak sekitar 12 kilometer dari ibu kota Kecamatan Tanjung. Bagi warga Kampung Jaan, nyalanya listrik PLN menjadi sebuah perubahan besar. Setelah puluhan tahun menunggu dan melewati beberapa generasi, akhirnya cahaya listrik hadir di kampung mereka.
Di balik terang yang kini menerangi rumah-rumah warga, tersimpan harapan agar perhatian dan pembangunan tidak berhenti pada listrik, tetapi terus berlanjut hingga infrastruktur dasar lainnya ikut dibenahi dan berkembang bersama daerah lainnya. (din)