Universitas Sapta Mandiri Ambil Peran Cegah Peningkatan Kasus HIV/AIDS

Gambar: Universitas Sapta Mandiri

“Mahasiswa punya pengaruh besar dalam mengubah pola pikir. Kalau mereka paham dan bijak, stigma itu bisa hilang pelan-pelan,” tambahnya.

PARINGIN, Mercubenua.net – Universitas Sapta Mandiri (UNIVSM) mengambil langkah nyata dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Balangan.

Bekerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Balangan, UNIVSM memberikan pemahaman untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Balangan tentang bahaya HIV dan cara pencegahannya melalui pelatihan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, di Aula Kampus. Termasuk langkah rehabilitasi terhadap stigma negatif pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) .

Kegiatan ini turut diikuti perwakilan Dinsos dan Dinkes Balangan, mahasiswa, komunitas, hingga masyarakat.

Sebagai salah satu universitas terkemuka di Kabupaten Balangan, Universitas Sapta Mandiri terus berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan isu-isu sosial dan kesehatan, salah satunya melalui pelatihan pencegahan HIV/AIDS ini.

Dengan menggandeng berbagai pihak terkait, UNIVSM berharap dapat memberi kontribusi nyata dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya HIV/AIDS.

UNIVSM juga berkomitmen untuk berperan aktif dalam kegiatan sosial yang dapat memberi dampak positif pada masyarakat luas.

Dengan langkah konkret ini, diharapkan dapat memperkecil jumlah penderita HIV/AIDS yang terkucilkan dari masyarakat dan memastikan mereka mendapatkan pengobatan yang diperlukan.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata dari kontribusi Universitas Sapta Mandiri dalam mendukung program kesehatan pemerintah daerah.

Plt Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Dinsos Kalsel, Yulia Kartika Sari menilai stigma negatif terhadap ODHA masih menjadi masalah serius di masyarakat.

“HIV/AIDS tidak bisa menular lewat sentuhan atau kebersamaan sehari-hari. Yang paling penting adalah empati dan pemahaman yang benar,” ujar Yulia dalam acara, beberapa waktu lalu.

Kurangnya informasi yang benar mengenai HIV/AIDS menyebabkan banyak orang yang mengidap virus ini merasa terisolasi dan takut untuk mencari pengobatan.

“Dampak dari stigma ini sangat besar. Banyak penderitanya yang enggan berobat karena takut status mereka diketahui dan dijauhi orang,” imbuh Yulia.

“Mahasiswa punya pengaruh besar dalam mengubah pola pikir. Kalau mereka paham dan bijak, stigma itu bisa hilang pelan-pelan,” tambahnya.

Disisi lain, Graha Eka Satria, narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan menjelaskan perbedaan antara HIV dan AIDS. Pasalnya, masih banyak orang yang masih bingung dengan istilah-istilah ini, sehingga pemahaman yang keliru sering kali terjadi.

“HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS adalah kumpulan gejala atau sindrom yang ditimbulkan akibat kerusakan parah sistem imun oleh virus HIV,” jelasnya.

Artinya, orang yang terinfeksi HIV belum tentu langsung menunjukkan gejala AIDS, namun orang yang sudah didiagnosis AIDS sudah pasti terinfeksi HIV.

Eka juga menanggapi kekhawatiran yang berkembang di masyarakat mengenai penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Balangan, yang belakangan ini menunjukkan tren peningkatan kasus, akibat perilaku menyimpang.

“Banyak kasus di mana penderita HIV terlihat sehat tanpa gejala selama rentang 5 hingga 10 tahun. Inilah yang berbahaya, karena selama periode tersebut, virus terus merusak sistem imun dan orang tersebut berpotensi menularkan tanpa disadari,” paparnya. **