Bang Zaki, Harus Maju!

“Kami butuh pembenahan. Dan kami yakin Bang Zaki bisa memulainya,” tambahnya.

PARINGIN, Mercubenua.net – Di Ganies Brothers Camping and Ground, Kamis siang (3/7/2025), suara tawa ringan terdengar menyelingi percakapan yang awalnya santai. Namun perlahan, suasana berubah. Nada mulai serius. Sorot mata lebih tegas.

Di tengah meja itu, satu nama jadi pusat perhatian, Zaki Mubarak. Ia yang mengenakan setelan warna hitam dipadukan dengan baju warna putih di tubuhnya.

Ia tidak sedang diminta menjadi pembicara. Ia sedang “diadili” dengan cara yang paling bersahabat, oleh rekan-rekan seprofesi yang ingin satu hal, agar ia maju sebagai calon Ketua PWI Balangan pada Konfercab kali ini.

Bukan tanpa alasan. Sudah sejak beberapa minggu terakhir, wacana bahwa Zaki akan mundur dari pengurus PWI mulai terdengar, pandangan itu menurut kawan-kawan terisyarat dalam salah satu postingan di salah satu akun media sosialnya.

Bagi sebagian orang mungkin tak jadi soal. Namun bagi kawan-kawan seprofesi sebagai pewarta yang sudah merasakan bagaimana Zaki bekerja dalam diam, kabar itu jadi lampu kuning.

Taufik Jubing, wartawan Warta Berita Indonesia, mengungkapkan ia bersama belasan jurnalis lainnya sudah merancang pertemuan ini sejak sebulan lalu.

Tapi bukan untuk sekadar ngobrol santai. Ini adalah bentuk keprihatinan sekaligus dorongan, yang jika perlu, disebutnya sebagai sebuah “pemaksaan”.

Mereka sepakat, PWI harus dipimpin oleh sosok yang punya prinsip. Dan tidak melihat banyak pilihan selain Bang Zaki.

Didi Juaidinor dari Banjar Hits menambahkan selama ini, banyak wartawan di daerah bekerja dalam kesunyian, jauh dari sorotan, namun tak jarang menghadapi tekanan.

Mereka butuh organisasi yang benar-benar hadir, bukan sekadar ada nama.

“Selama ini PWI di Daerah belum cukup terasa maksimal dampaknya. Baik dalam melindungi, maupun membina,” ucap Didi dengan nada pelan namun serius.

“Kami butuh pembenahan. Dan kami yakin Bang Zaki bisa memulainya,” tambahnya.

Bukan berarti mereka meremehkan pengurus lainnya. Namun suara mayoritas wartawan yang hadir hari itu menggambarkan satu hal, Zaki adalah sosok yang dipercaya di tengah kondisi yang tidak selalu mudah ditebak.

Dalam diskusi tersebut, menariknya, wartawan yang hadir berasal dari berbagai latar. Ada yang dari IWO, dari Forum Jurnalis Balangan, dari Komunitas Wartawan Sanggam, dan tentu saja dari PWI sendiri.

Tapi mereka semua sepakat, hari itu mereka datang bukan membawa bendera organisasi, melainkan membawa kegelisahan pribadi sebagai jurnalis agar PWI mendatang bisa mengakomodir kepentingan sesama profesi seperjuangan.

“Kami tidak mewakili institusi, hanya mewakili rasa peduli,” kata salah satu peserta.

Lalu bagaimana respons Zaki?

Pria yang dikenal tenang dan nyaris tak pernah mencari panggung itu tersenyum kecil saat diminta bicara.

Ia menggambarkan saat ini masih tidak punya jawaban. Tapi dirinya sangat menghargai kepercayaan teman-teman satu profesi. “Ini lebih dari sekadar dorongan. Ini bentuk solidaritas yang luar biasa,” kata Bang Zaki.

Baginya, dukungan hari itu bukan hanya ajakan untuk maju, tapi juga bahan renungan.

Ia menyebutnya sebagai bentuk autokritik kolektif terhadap organisasi dan profesi yang mereka geluti bersama.

Bagi para wartawan Balangan, desakan agar Zaki maju bukan soal jabatan. Ini tentang arah. Tentang bagaimana organisasi profesi bisa kembali menjadi tempat yang melindungi, membina, dan memperjuangkan integritas jurnalis meski di pelosok, meski jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Kini semua mata menunggu Zaki. Bukan untuk sekadar mencalonkan diri, tapi untuk menjawab harapan yang diam-diam sudah lama dipikulnya. **