Bagian satu: Perlawanan Penghulu Rasyid Mengusir Penjajah

SEJARAH PERJUANGAN – Hadiah Seribu Gulden dijanjikan untuk siapa saja yang berhasil memotong kepalanya. Perjuangannya di Banua diantaranya di Sungai Hanyar, Banua Lawas hingga ke Dusun Timur berhasil mengacaukan pertahanan para penjajah Belanda. Perjuangannya melawan penjajah Belanda harus berakhir setelah dirinya wafat dalam sujud terakhirnya pada Sholat Ashar. Adalah dia Penghulu Rasyid sang Pejuang.

Gambar: Foto Penghulu Rasyid di dalam Kubah Makam di samping Mesjid Pusaka di Kecamatan Benua Lawas.

TANJUNG, Mercubenua.net – Abdul Rasyid adalah salah satu pemimpin yang bergelar “Penghulu” dan terjun lansung dalam perjuangan melawan penjajah Belanda. Abdul Rasyid adalah seorang ulama Islam sekaligus pejuang disaat terjadinya perang Banjar.

Penghulu Rasyid dilahirkan di Desa Telaga Itar Kecamatan Kelua Kabupaten Tabalong (saat ini, red) sekitar tahun 1815 Masehi silam. Versi lain menyebutkan Penghulu Rasyid dilahirkan pada tahun 1815 M di Desa Habau Kecamatan Banua Lawas (sekarang).

Ayah Abdul Rasyid bernama Ma’ali, seorang yang juga disegani di daerah itu. Ibundanya bernama Imur, Kakek beliau bernama Andin Bin Kulah seseorang salah satu keturunan dari Lambung Mangkurat.

Penghulu Rasyid sejak kecilnya sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Kepada orang tuanyalah sewaktu kecil beliau belajar agama. Beliau taat beribadah dan patuh patuh terhadap ajaran agama Islam.

Sifat terpuji sudah tertanam pada diri Penghulu Rasyid sejak usia belia. Ilmu dan pengetahuannya tentang agama Islam dengan pribadi yang tinggi menjadikannya seseorang yang disegani.

Penghulu Rasyid juga mendalami agama Islam kepada beberapa orang tokoh ulama. Diantaranya Tuan Guru Haji Bahruddin dan Tuan Guru Haji Abdussamad.

Informasi yang dihimpun dari Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan Daerah(Dispersip) Kabupaten Tabalong diketahui perjuangan Penghulu Rasyid dimulai setelah Belanda mengumumkan dihapusnya Kesultanan Banjar pada 11 Juli 1860 yang diumumkan Residen FN Neuwenhuisen.

Ado domba dan campur tangan Belanda dalam menentukan penerus tahta Kerajaan Banjar hingga membatalkan Undang-Undang Sultan Adam membuat ulama dan rakyat saat itu marah.

Sama seperti di daerah lainnya, Penghulu Rasyid juga mengangkat senjata membangun kubu pertahanan di Desa Sungai Hanyar dan di Pasar Arba Banua Lawas melawan pasukan penjajah Belanda yang juga menyerang Tabalong.

Dipimpin Pangeran Antasari, Penghulu Rasyid ditunjuk sebagai kepala perang di sektor Tabalong untuk melawan penjajah bersama kawan-kawan seperjuangannya.

Penghulu Rasyid menetapkan Markas Pertahanan dan tempat latihan Prajurit dalam bergerilya di Desa Habau.

Dalam perjuangan Penghulu Rasyid didampingi oleh tiga pembantu utamanya, yaitu Hatib Rahban asal Demak, Datu Ahmad asal Habau, dan Umpak asal Telaga Itar Kelua.

Bersama kawan-kawan dan pasukan perjuangannya, Penghulu Rasyid menyerang pertahanan penjajah Belanda di Kota Tanjung pada 17 Agustus tahun 1860 dan berhasil mencegat Kapal Van Os dan Bone.

Gambar: Makam Penghulu Rasyid, Salah satu Cagar Budaya Kabupaten Tabalong.

Perlawanan Penghulu Rasyid terhadap Belanda di daerah Banua Lawas bersama H Bador sanggup menghadang kapal pasukan Belanda yang menuju Kota Tanjung melalui jalur sungai.

Pasukan Penghulu Rasyid mendirikan Benteng di Sungai Hanyar dan Pasar Arba yang merupakan salah satu tempat strategis untuk menghadang kapal.

Versi lain ada juga menyebutkan lokasi markas pertahanan Penghulu Rasyid adalah di Tunggung Sawu (Sungai Penghulu) Mandaling Habau Kecamatan Banua Lawas dan daerah penyerangan terhadap Belanda dilakukan di sekitar Telaga Itar, Muara Sungai Hanyar dan di sungai Buluh serta di Tabur.

Pertempuran pasukan Penghulu Rasyid di Benua Lawas terjadi pada tanggal 18 Oktober 1961. Anak buah H Bador memusatkan kegiatan di Masjid Pusaka Banua Lawas sambil berzikir Ratib.

Pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Thelen berhasil diserbu dan dipukul mundur ke Kelua dan meminta bantuan serdadu lainnya di Amuntai.

Dari pertempuran itu, sejumlah pasukan serdadu Belanda yang dipimpin Kapten Thelen berhasil ditewaskan.

Penyanggulan dengan perang sistem gerilya yang dipimpin oleh Penghulu Rasyid telah dilakukan di mana-mana. Saat itu pihak Belanda hampir tidak ada kemampuan lagi untuk menghadapi serangan penyanggulan dari pasukan pejuang yang dipimpin Penghulu Rasyid dan terpaksa meminta bantuan Serdadu ke Banjarmasin. (***/Berbagai Sumber)

Berlanjut ke Bagian dua: https://mercubenua.net/?p=4677